The New World
10

Not enough ratings

The New World

By: Y-Rin OngoingFantasi

Language: Bahasa_indonesia
16

Chapters: 146 views: 5.7K

Read
Add to library
Report

Lock Easton, si Badut Penyendiri, mendadak menjadi pusat perhatian. Semua orang yang melihatnya terpana, takjub, bahkan hingga ada yang jatuh pingsan. Tidak berhenti sampai disitu, keanehan-keanehan lain menyusul setelahnya, membuat Lock menjadi semakin stres dan kewarasannya terancam. Puncak dari semua hal tersebut adalah saat tetangganya, yang telah tinggal di sebelah apartemennya selama bertahun-tahun, lenyap secara misterius dengan hanya meninggalkan sepucuk surat. Kehidupan Lock kemudian berubah 180 derajat setelah seorang eksistensi, yang menyebut dirinya [Yang Terpilih], muncul di hadapannya dan memberinya dua pilihan sulit. Sadar bahwa dirinya berbeda, Lock akhirnya memutuskan untuk meninggalkan kehidupan yang dijalaninya sekarang dan melangkah ke Dunia Baru yang asing, memesona, dan penuh petualangan. Namun, Lock tidak sadar bahwa takdir mengerikan yang menunggunya, tidak akan terelakan begitu ia memilih jalan tersebut. Dan yang membuat keadaan makin gawat, seseorang diam-diam berambisi untuk menjebaknya menjadi seorang pengkhianat.. Bahasa: Indonesia Genre: Fantasy, Mystery

Overview
Catalog

The New World Novels Online Free PDF Download

CommentsLeave your review on App
No Comments
Latest Chapter
146 chapters
Chapter 1. Permulaan
Taman bermain Finn mencetak rekor dengan jumlah pengunjung tertinggi tahun itu. Semua wahana hiburan ramai dan antrian membludak, seolah-olah seluruh penduduk kota memutuskan hari itu adalah hari yang tepat untuk bermain. Jeritan senang, teriakan, tangisan, semua membaur dalam suasana musim panas. Sinar matahari yang sangat terik dan udara panas yang membakar kulit tidak membuat semangat para pengunjung surut. Mereka semua menikmati liburan musim panas yang hampir berakhir.Di salah satu café di dalam taman bermain Finn, lima orang remaja sedang duduk beristirahat di teras luar. Bagi murid SMA Culfox, wajah kelima orang tersebut tidak asing. Bahkan mungkin ada beberapa wajah yang lebih baik dihindari jika ingin memiliki masa SMA yang tenang dan nyaman. Beberapa wajah lainnya, seperti Chang atau Cheryl, mungkin lebih susah untuk dihindari karena wajah mereka yang sangat rupawan.Para remaja itu sedang asyik bercanda sambil merokok saat Samuel kembali dari dalam c
Read more
Chapter 2. Keanehan
Hari itu beberapa keanehan muncul sejak Lock membuka mata. Ia bangun di apartemen kecilnya yang lusuh dan gelap, mendapati seekor burung masuk ke dalam kamarnya dan mengacak-ngacak pakaiannya yang sedang dijemur. Dia mengamati burung itu membuang kotoran di bajunya sembari bersandar di ambang pintu. Si burung mengamatinya balik tanpa rasa takut, seolah mengejeknya. “Haah,” Lock mendesah dan mengusap rambut coklatnya yang berantakan. “Aku berharap kau bisa berkunjung baik-baik dan tidak membuang kotoran di bajuku.” Si burung putih bercuit ribut sambil mengepakan sayap seolah tidak setuju. Detik berikutnya, dia mengotori pakaian Lock yang lain. Lock hanya menunduk sedikit melihat itu dan menghela nafas panjang. Burung putih itu sepertinya memiliki hobi untuk selalu mengacaukan tempat tinggalnya yang sudah berantakan. Lock beranjak dan membuka jendela lebar-lebar. “Kenapa kau tidak membuang kotoranmu di baju bibi sebelah saja?” gumamnya. “Aku akan member
Read more
Chapter 3. Drama Palsu
Berpuluh-puluh kilometer dari apartemen kecil Lock, seorang gadis sedang berbaring diatas sebuah tempat tidur mewah di sebuah kondomonium elit. Gadis kecil itu mengerang dengan wajah pucat. Badannya melengkung dan mengejang menahan sakit. Di sampingnya, sepasang suami istri menatapnya dengan pose stres. “… Melisa, telepon dokter Ken lagi.” Melisa, seorang wanita cantik yang menginjak usia 40 tahun, melirik suaminnya dengan pandangan kesal. “Telepon sendiri.” “Apa?” Melisa tidak gentar di bawah tatapan marah suaminya “Kau dengar kataku,” kata Melisa ketus. “Aku sudah menelpon dokter Ken sepuluh menit yang lalu. Kalau kau tidak sabar, telepon sendiri.” Wajah Baram merah padam karena marah. Dia mendengus, kemudian bangkit berdiri, dan mengambil telepon dengan kasar. Suara Baram yang marah dan tidak sabar terdengar, tetapi Melisa tidak peduli. Ia menatap gadis kecil yang terbaring di depannya dengan pandangan kosong. Geraman terdengar; dan wajah p
Read more
Chapter 4. On Rainy Days
Setahun kemudian.Ponsel Avery berdering nyaring di atas sebuah meja. Avery melirik nama si penelpon dan langsung mengacuhkannya. Beberapa orang, termasuk penjaga, meliriknya tajam dan kesal, tetapi Avery tidak peduli.Jelas saja para murid dan penjaga kesal karena Avery sedang berada di perpustakaan yang menjunjung tinggi keheningan. Namun, tidak ada yang berani menegurnya. Alasannya sederhana; itu karena ia adalah salah satu anak terkaya di SMA Culfox. Ayahnya donatur utama yang membuat penjaga perpustakaan segan padanya, dan kakaknya, Jihun, adalah si brengsek yang memiliki reputasi buruk di sekolah.Sebenarnya, para murid tahu bahwa Jihun dan Avery jauh dari kata akrab, tetapi Jihun adalah berandalan yang suka mencari gara-gara. Itu sudah cukup menjadi alasan untuk sebagian murid tidak macam-macam dengan Avery, kecuali mereka siap berhadapan dengan Jihun. Avery membenci Jihun, tetapi dia menyukai keuntungan yang ia dapat karena itu berarti d
Read more
Chapter 5. On Rainy Days (II)
Mereka berdua berjalan beriringan tanpa banyak bicara. Setelah berada sedikit jauh dari lingkungan sekolah, Avery berjalan bersisian dengan Lock. Avery tidak ingin sering bertemu Jihun atau pulang bersamanya, jadi dia memilih tinggal bersama dengan beberapa pelayan di rumah lain dan meninggalkan keluarga besarnya yang tinggal di rumah induk. Rumah tempatnya ia tinggal sekarang sangat dekat dengan sekolah sehingga ia hanya perlu berjalan kaki selama 10 menit. Lock, pelayan tidak resmi Avery, selalu ‘menjemputnya’ dan mereka selalu berjalan bersama berangkat dan pulang sekolah. Namun, Lock jarang bicara dan tidak pernah bertanya apa pun padanya, apalagi membicarakan dirinya sendiri. “Hei,” panggil Avery. Ia berhenti berjalan. “Ayo kita makan es krim.” Hari itu tiba-tiba saja berbeda. “… Apa kau sakit?” Jawaban dan ekspresi Lock membuat Avery geram. “Berhenti menjadi orang brengsek dan pergi beli es krim.” Beberapa menit kemudian, mereka
Read more
Chapter 6. Bocah Sirkus
Lamunannya terinterupsi ketika bus berhenti di halte tujuannya. Hujan kembali turun saat ia turun dari bus, membuat Lock harus berlari menembus hujan hingga ke gedung apartemennya.Saat dalam perjalanan naik tangga menuju kamarnya yang ada di lantai 3, Lock menyadari bahwa ia basah kuyup dan jejak kakinya mengotori lantai. Mau tidak mau, bayangan tetangganya yang akan menghujaninya dengan 1001 sumpah serapah, terbayang di benak Lock. Bibi sebelah kamarnya selalu mencari hal untuk memarahi Lock, bahkan hingga ke hal-hal yang tidak masuk akal seperti ini:“Bunga-bungaku selalu layu di tempat ini! Tidak ada hawa kehidupan sama sekali yang bisa membuatnya mekar dengan indah!”Dia melotot seolah-olah Lock adalah sumber tragedi yang membuat bunganya layu. Saat itu, Lock menjawab dengan wajah serius.“Itu karena Bibi terlalu banyak tersenyum pada bunga itu.”Sebelum wanita itu memproses makna jawabannya, Lock meny
Read more
Chapter 7. The Empty Room
Di malam hari yang cerah, beberapa orang warga berkerumun di salah satu lapangan yang dikenal sebagai markas Red Carnaval. Polisi menjaga agar tidak ada orang yang bisa mendekat, sementara gosip berhembus diantara para kerumunan warga. “Mereka menjual obat-obatan, para pemain sirkus itu.” “Aku dengar mereka juga memperjualbelikan manusia.” “Ck, sudah kuduga orang-orang sirkus itu tidak baik. Binatang yang mereka gunakan sebagai bagian dari atraksi itu terlihat tersiksa.” “Kau menyukai atraksi mereka.” “Ah, tidak. Aku selalu tahu kalau mereka orang-orang jahat. Hei, lihat! Itu rombongannya! Mana ketua mereka – si Joe?” “Dia ditembak mati oleh Detektif gila itu.” Mereka menatap para petugas yang sibuk menggiring beberapa orang ke dalam mobil polisi atau menyusup masuk ke dalam mobil-mobil karavan untuk mencari bukti. Para warga semakin asyik berdiskusi apalagi setelah melihat beberapa tim medis keluar membawa kantong-kan
Read more
Chapter 8. Pembunuhan Pertama si Badut (I)
Lock memandangi langit biru cerah tidak berawan dengan mata menerawang. Burung-burung terbang bebas di angkasa, berkicau lembut seperti nyanyian indah di siang hari. Suasana terasa indah, tetapi tidak tampak nyata bagi Lock, sama seperti saat ia memikirkan tetangganya yang lenyap tanpa jejak. Semua yang ia alami terasa tidak nyata. Hari itu bergulir dengan sangat cepat. Lock hampir tidak bisa mengingat apapun selama perjalanan ke sekolah, atau saat ia menjemput Avery, dan tidak ingat apa-apa sejak ia masuk kelas hingga saat ini. Ia bahkan tidak menyadari hari sudah siang dan ia sudah berada di atap untuk menghabiskan waktu istirahat sendirian seperti biasanya. Lock tidak heran karena pikirannya penuh dengan semua keanehan yang terjadi di sekelilingnya. Luka lama di tubuhnya hampir lenyap tidak bersisa, ‘pesona’ aneh yang dimilikinya, bisikan mengerikan yang hanya dapat didengar olehnya, mata kanannya yang terkadang mengeluarkan sinar redup bewarna kemerahan; semua te
Read more
Chapter 9. Pembunuhan Pertama Si Badut (II)
Hanya suara gemuruh yang terdengar saat Lock selesai. Ia tidak bisa melihat Jihun karena pandangannya ditutup oleh tubuh besar antek Jihun yang berdiri mengelilinginya. Lock menunggu perasaan lega itu datang; dia yakin saat anak-anak di sekelilingnya mengetahui kenyataan bahwa Jihun membohongi mereka, mereka akan pergi meninggalkan pemuda menyedihkan itu. Tapi, tidak ada kelegaan saat Lock membuka kartunya. Ia tersentak mundur saat mengetahui ada sesuatu yang salah. Tepat saat itu, suara tawa Jihun terdengar di tengah-tengah rintikan hujan yang mulai turun. “Puahahahhahahahahaha!” Jihun menyeruak diantara badan kedua temannya. Ia terlihat santai sekali dengan senyum menghiasi wajahnya yang tampan. Air hujan membasahi rambut Jihun dan matanya menatap Lock dengan tatapan mencemooh. “Pegangi dia.” Diluar dugaan Lock, teman-teman Jihun bergerak mengikuti perintah pemuda itu tanpa keraguan sedikitpun. Tangan kanan dan kirinya dipegangi kuat-kuat h
Read more
Chapter 10. A Rainbow After The Rain (I)
Sherly merenggangkan tubuh mungilnya yang kaku dan keluar dari ‘kapsul’ – yang merupakan tempat kerjanya, dengan perasaan lega. Ia sudah berada di dalam ‘kapsul’ selama 48 jam tanpa beristirahat dan perasaannya tidak baik karena harus menonton banyak hal buruk selama itu. “Sudah selesai, Sherly? Selamat!” Itu adalah salah satu rekannya yang lain, Brahm. Sama seperti Sherly, dia baru saja terbebas dari ‘kapsul’ miliknya setelah hampir 72 jam terkurung. Mata Brahm berkantung, dan tangannya memegang secangkir kopi elixir. Sherly hanya bisa mengangguk, tidak punya tenaga untuk berkata apapun. Ia menyeduh kopi elixir yang tersedia di meja pantri di belakang Brahm dan baru bisa rileks saat kehangatan kopi masuk ke perutnya yang kosong. Bibirnya mengeluarkan desahan lega saat ia menikmati kopi dan memandang kosong ‘kapsul-kapsul’ lain yang berterbangan diatasnya. Empat ‘kapsul’ masih tertutup dan bersinar, menandakan beberapa rekannya bahkan masih belum sele
Read more