Bab 2

Tidak peduli dengan malam yang semakin gelap, Adam keluar dari kamar meninggalkan Renata yang terlelap.

Suasana sudah sunyi dan hening, sesekali dentingan jam yang berbunyi. Kaki Adam melangkah pasti menuju kamar Kinanti.

Adam terbiasa dibesarkan dengan rasa tanggung jawab. Kali ini pun sama, walaupun terasa begitu sulit. Tetapi paling tidak ia ingin bertemu langsung dengan Kinanti untuk bertanya apakah benar wanita yang memasuki kamarnya malam itu Kinanti bukan Renata.

"Kinanti!"

Adam langsung masuk tanpa mengetuk pintu, matanya menyapu ruangan dengan ukuran tidak terlalu luas. Tidak ada orang, kamar itu tampaknya kosong.

"Cari Kinanti Tuan?"

Adam tersentak karena suara Mbok Sum yang menghampiri tiba-tiba, namun wajah Adam masih terlihat tenang.

"Di mana Kinanti Mbok?"

"Lho, tadi ada."

Mbok Sum langsung masuk, memanggil nama orang yang dicari Adam. Namun nihil, Kinanti tidak terlihat sama sekali.

"Apa Tuan membutuhkan sesuatu?"

Mbok Sum keluar dari kamar Kinanti untuk menemui majikannya yang sebelumnya menunggu di luar. Tetapi, saat ini Adam sudah tidak berada di sana.

"Tadi?" Mbok Sum menggaruk kepalanya dengan kebingungan.

Tidak ingin diam saja, Adam memutuskan untuk mencari keberadaan Kinanti. Dengan setengah berlari, Adam menuju garasi dan menyalakan mesin mobilnya dengan terburu-buru.

Ia melajukan mobilnya  di tengah hujan deras yang terus turun bersama dengan gemuruh yang bersahutan-sahutan.

"Kinanti!"

Adam mendadak menghentikan laju mobilnya, matanya tertuju pada wanita yang tengah berdiri di tengah jalanan. Tubuhnya basah, kedua tangannya membentang di sampingnya. 

Apa yang tengah di lakukan wanita Itu?

Mengambil jalan pintas?

Lama Kinanti menutup mata, menantikan mobil yang melaju untuk menabraknya. Akan tetapi mobil itu malah berhenti, Kinanti membuka mata, raut wajahnya kecewa.

"Apa yang kau lakukan?"

Adam menghampiri Kinanti, keduanya basah di bawah guyuran air hujan yang semakin deras.

Dunia seperti berputar semakin kencang, tatapan mata keduanya bertemu namun tidak ada yang berucap, larut dalam gejolak pikiran masing-masing.

Ingatan mengenai malam kemarin masih terasa perih untuk Kinanti. Tersadar dari lamunannya, Kinanti sudah berada di dalam mobil.

Lama keduanya terdiam, Adam akhirnya menyalakan mesin mobilnya karena merasa tidak tepat jika bertanya saat ini juga pada Kinanti. Akhirnya, Adam menatap Kinanti yang duduk di sampingnya.

Adam kembali menarik napas, membulatkan tekad untuk bertanya. Bagaimana pun semua harus jelas tanpa ada yang akhirnya merasa tersiksa karena keadaan.

"Saya ingin bertanya," Adam menepikan mobilnya, lalu menatap Kinanti yang duduk di sampingnya.

Adam terus menatap wajah Kinanti, tampaknya kali ini Adam dapat menyimpulkan sendiri.

Kinanti hanya diam, pandangannya terlihat kosong.

"Kinanti," Adam berusaha untuk berbicara pada wanita yang hanya diam dengan tubuhnya yang basah.

Perlahan Kinanti memutar leher, menatap manik mata Adam yang juga tengah menatap dirinya. Tetapi dada terasa sesak, bibir bergetar hebat dengan air mata yang kembali meluncur tanpa permisi.

Apa yang harus Adam tanyakan, tampaknya raut wajah pilu Kinanti sudah menjelaskan segalanya.

"Apa malam kemarin kita-" leher Adam bagaikan tercekik, terlalu sulit untuk mengutarakan pertanyaan yang membuat Kinanti kembali terluka. Tetapi, Adam juga butuh jawaban pasti dari bibir Kinanti.

Kinanti menggigit kuku-kuku jari, menahan isak tangis kepiluan dengan sekuat tenaga.

Tidak perlu lagi bertanya, Adam sudah sangat yakin jika Kinanti adalah orangnya. Selain Kinanti tidak ada lagi wanita yang masuk ke kamarnya saat malam itu, bahkan Renata sekalipun.

"Maaf."

Andai satu kata itu bisa mengembalikan segalanya, tidak akan ada luka sedalam ini.

Kinanti terdiam, menatap keluar. Air matanya terus mengalir tanpa ada henti.

Kedua tangannya saling meremas meluapkan rasa sakit yang tidak terobati. Luka yang di torehkan Adam begitu dalam, berjuta kata maaf pun tidak akan mampu mengobati luka yang begitu perih.

"Tolong jangan mengakhiri hidup, saya bersalah. Kalau kau mengakhiri hidup mu, saya adalah orang yang paling bersalah," kata Adam penuh penyesalan.

Rasa bersalah Adam semakin terasa, tangisan pilu terdengar nyaring di telinga Adam.

"Saya tidak tahu, bagaimana harus bertanggungjawab. Saya sudah menikah, bahkan baru saja pagi tadi," tutur Adam dengan ragu.

Tidak mungkin menikahi Kinanti, saat ini Adam sudah memiliki seorang istri yang sangat di cintai. Tidak perduli apakah salah atau benar, akan tetapi cinta Adam pada Renata juga tidak mudah untuk digoyahkan.

"Saya sangat mencintai istri saya." imbuh Adam dengan pasti, bahkan selalu menekankan setiap kata. Karena, memang cintanya sangat besar pada Renata.

Kinanti mengangguk, tangannya menyekat sisa-sisa air mata yang tidak pernah bisa kering pada wajah. Mencoba menerima semua kepahitan dengan suka cita, berusaha merelakan apa yang sudah hilang.

"Kau ingin kembali ke rumah?" tanya Adam.

Kinanti mengangguk, walaupun Adam sudah menyakiti paling tidak saat ini Adam masih memiliki hati nurani mengakui segala kesalahannya.

Adam mengambil jas putih yang selalu tersedia di mobilnya, kemudian memakaikan pada Kinanti. Berharap sedikit mengurangi rasa dingin yang tengah di rasakan.

Tubuh Adam yang masih condong pada Kinanti tidak lantas menjauh, jemari tangan nya mengusap air mata wanita rapuh yang tengah menahan sesak di dada.

Menyisir beberapa helai rambut yang menutupi wajahnya, menatap dengan jelas bertapa rapunya wanita yang bekerja sebagai pengasuh bagi dua keponakan nya dalam jarak yang cukup dekat.

Perlahan Adam menarik Kinanti kedalam pelukannya, berharap agar perasaan Kinanti sedikit bisa lebih baik.

Tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Tangis Kinanti kembali pecah begitu saja, tidak terbendung walaupun dengan sejuta cara.

Tangan Adam mengusap punggung Kinanti, dengan perasaan bersalah yang semakin dalam. Sampai akhirnya Kinanti menjauh, Adam pun mulai duduk di kursinya dengan benar.

Menatap arah depan, jendela mobil yang di tetesi air hujan. Bayangan wajah Renata juga tiba-tiba melintas dengan begitu saja, Adam bukan hanya menyakiti satu wanita. Tetapi dua wanita dalam waktu yang sama, hanya saja bedanya Renata tidak tahu akan semua ini.

Adam membali melakukan mobilnya, tanpa satu patah kata pun. Melihat tubuh basah Kinanti, Adam juga takut jika nanti malah Kinanti kayu sakit.

Sampai di rumah Adam menepikan mobilnya, lalu menatap Kinanti yang hanya diam sambil menatap kedepan. Tanpaknya Kinanti belum tersadar jika mobil Adam sudah terparkir di depan rumah.

"Kinanti," panggil Adam.

Kinanti masih diam, tidak ada rasa dingin, rasa kantuk, yang ada hanya rasa sakit.

"Kinanti," Adam menepuk pundak Kinanti.

Seketika itu pula Kinanti tersadar dari lamunannya, ia mulai melihat sekelilingnya dan perlahan turun dari mobil Adam tanpa satu patah katapun.

Kaki Kinanti terus melangkah masuk, jas putih Adam masih melekat di tubuhnya. Tanpaknya Kinanti tidak menyadari hal itu.

Renata yang terbangun merasa bingung, karena tidak ada Adam di sampingnya. Lalu kakinya melangkah menuju balkon dan melihat Kinanti yang keluar dari mobil milik Adam.

Related Chapters

Latest Chapter